Hint: Tanggal kita jadian (DDMMYYYY)
Ada cerita pendek tentang "Kita" yang mau aku sampaikan.
Mulai dari jokes receh sampai hari ini.
Ingat ga chat absurd ini?
Dari pick-up line gagal itu, aku tau aku nemu orang yang beda.
Waktu itu kita mau nonton Weapons.
Jujur, pas pertama liat kamu... deg-degan parah. Tapi anehnya, ngobrol sama kamu rasanya kaya udah kenal bertahun-tahun.
Dari situ, kita mulai jadi "Musuh" tapi sayang.
Hubungan kita tuh isinya:
Jujur, aku ga pernah lupa waktu kamu kasih aku bunga sama hoodie buat ulang tahunku.
Itu pertama kalinya seumur hidup aku dikasih bunga dan hadiah ulang tahun sama cewek. Rasanya... aneh, tapi seneng banget.
Aku simpan bunganya di meja, dan setiap kali aku lihat, aku selalu senyum sendiri. Makasih ya, udah jadi yang pertama buat banyak hal di hidupku.
Ingat ga waktu kita di Paskal, jalan tanpa tujuan, tapi rasanya semua tempat jadi indah karena ada kamu?
Atau waktu kita nekat fotobox pertama kali? Liat deh foto ini, aku senyumnya kaku banget, tapi seneng banget bisa sedekat ini sama kamu.
Setiap momen, sekecil apapun ituāsemuanya aku simpan di sini. Buat aku, kebahagiaan itu sesederhana ngeliat kamu ketawa karena leluconku.
Awal kenalan di LINE, knock-knock joke yang garing tapi berhasil bikin kita ngobrol.
Saling tukar cerita, ngomongin kucing, dan akhirnya tukeran Instagram. Momen misteriusnya Nanad kebongkar dikit.
Ngobrolin makanan favorit, dari cheesecake sampai McFlurry. Mulai merencanakan kulineran bareng.
Deep talk soal kebiasaan tidur dan kopi, janji saling bangunin.
LDR sejenak, Naka di Manila, Nanad di Bandung. Tetep saling ngabarin dan bercanda soal "jurus seribu bayangan".
Obrolan tengah malam soal love language. Panggilan "Natt" dan "Ann" pertama kali muncul.
Pertama kali jemput kamu pulang kerja. Nungguin Nana di depan BRI.
Ketemuan lagi, saling kirim lokasi, memastikan kita ga nyasar.
Nge-date sambil pilih-pilih menu panjang lebar, dari bites sampai sweets.
Momen jemput Nanad, "aku bawa helm berarti ya". Simpel tapi manis.
Hujan-hujanan nekat demi ketemu, yang berujung Naka bakal dicubit besoknya.
Photobooth di Braga. Nyasar, pusing sama keramaian, tapi akhirnya ketemu dan bikin kenangan.
Bukan cuma kenangan, betapa nyamannya kita ngobrol sampai lupa waktu.
Ini cuma beberapa, tapi setiap detiknya berharga.
Beberapa chat yang selalu bikin aku senyum-senyum sendiri.
Aku terlalu takut kehilangan kamu sampai aku lupa caranya bikin kamu nyaman.
Life360, chat posesif, ngambek ga jelas... Aku sadar itu bikin kamu ngerasa "dipenjara".
Maaf ya, Nad. Aku ngerusak kenyamanan kamu dengan ketakutan aku sendiri.
Rabu siang kemarin, aku tiba-tiba ngerasa bersalah banget. Aku sadar caraku selama ini salah, terlalu ngekang kamu.
Aku ga cuma ngomong doang mau berubah. Ini perjalananku beberapa hari terakhir:
Aku sadar aku butuh bantuan, jadi aku cari info soal pasangan dan hubungan.
Aku akhirnya ke psikolog (Purwo Erina) buat ngatasin masalahku.
Aku nulis semua yang aku pelajari biar aku ga lupa dan terus jadi lebih baik.
Aku lakuin ini semua karena aku mau yang terbaik. Buat diriku sendiri, dan yang paling penting, buat kita.
Aku mau ganti memori buruk kita dengan yang lebih indah.
Jadi, mau ga kita mulai lagi dari awal?
Tanpa Life360, tanpa curigaan. Cuma ada Nata yang lebih dewasa, dan Nanad yang bebas jadi dirinya sendiri. Kita balik ke mode pacaran yang manis dan wajar. Kita jalanin hubungan yang lebih sehat, dan kita perbanyak momen wholesomeākulineran, jalan-jalan, dan deep talk.
Gapapa, aku ngerti.
Makasih udah mau baca ini, Nad. Take all the time you need. Aku tetep di sini sambil terus perbaiki diri.
Jaga kesehatan ya, jangan telat makan.
Aku lakuin ini semua karena kamu berharga, Nad.
Aku mau kamu baca ini.
Maybe we shouldnāt try again. Maybe our story was only beautiful because it ended exactly when it did.
Maybe second chances are illusions we chase because goodbyes hurt too much.
But what if weāre wrong? What if real love only truly begins after it breaks?
What if every tear, every mistake, every painful goodbye was simply preparing us to appreciate the sweetness of finally getting it right?
Therefore, letās rewrite this story. But this time, letās choose each other fiercely, hold tighter, and love deeper.
Because perhaps, loveās greatest beauty is revealed only after weāve felt the emptiness of losing it.
Aku di sini untuk meminta satu kesempatan: kesempatan untuk belajar mencintaimu dengan cara yang tepat, dengan cara yang kamu butuhkan.
Aku yakin kita bisa berubah. Gak cuma hari Rabu, di hari Jumat dan Sabtu kemarin aku juga diskusi lagi sama beberapa temenku dan profesional di bidang hubungan.
Kalau kamu mau tau apa aja yang kita bahas, kamu bisa klik di sini. Kalau enggak juga gapapa, takutnya kamu overwhelm.
Ini yang aku pelajari tentang kita:
"Aku takut kamu bakal ninggalin aku."
"Aku takut harus memikul tanggung jawab atas dirimu."
"Aku pengen ada kejelasan tentang 'kita'."
"Aku benci banget harus ngomongin perasaanku."
"Kenapa sih kamu selalu menarik diri/ngejauh?"
"Kenapa sih kamu selalu menekan aku?"
"Berat buat aku untuk memendam semuanya sendirian."
"Berat buat aku untuk ngadepin emosi-emosi kamu."
"Aku butuh lebih banyak waktu bareng-bareng."
"Aku butuh lebih banyak waktu sendiri (me-time)."
"Kehadiran kamu di hidupku rasanya masih belum cukup."
"Ruang gerak/privasiku rasanya masih belum cukup."
"Aku overthinking sama setiap chat."
"Aku overthinking di setiap momen yang emosional."
"Aku selalu ngejar koneksi (biar kita deket terus)."
"Aku butuh space (ruang sendiri)."
"Aku takut kehilangan kamu."
"Aku takut kehilangan kebebasanku."
"Saat kamu menuntut kabar atau lokasi, kamu tidak sengaja memicu luka batin ini. Kamu berubah dari 'Pacar' menjadi sosok otoritas lain yang 'menuntut' dan 'menyalahkan' dia."
"Kamu melihat kenapa dia sering main kost/rumah teman? Di psikologis, itu adalah Self-Soothing Behavior. Di sana adalah 'Zona Netral'. Di sana tidak ada orang tua, dan tidak ada pacar yang anxious. Di sana dia bisa bernapas. Itu bukan tentang bosan atau ga mau main sama kamu Naka, itu tentang survival mental."
"Yang satu butuh space (ruang sendiri). Yang satunya lagi butuh kedekatan, detik ini juga. Pas yang satu bilang, 'Aku butuh waktu,' yang satunya malah denger, 'Kamu tuh nggak peduli sama aku.' Akhirnya yang satu jadi shut down (menutup diri), terus yang satunya malah makin ngejar-ngejar (chasing). Dan ujung-ujungnya, dua-duanya sama-sama sakit hati."
"Apa yang sering orang sebut 'komunikasi jelek' itu sebenernya cuma dua sistem yang lagi ketakutan dan berusaha ngelindungin diri masing-masing."
"Kalian nggak 'rusak' kok. Kalian nggak 'terlalu emosional' atau baperan. Kalian bukannya mustahil buat dicintai (impossible to love). Kalian itu cuma lagi ke-trigger. Kalian ngomong dari rasa takut, bukan dari pikiran yang jernih. Dan 'mode bertahan hidup' (survival mode) kamu lagi ngambil alih kendali."
Naka, kamu ibarat orang yang memegang karet gelang terlalu kencang karena takut lepas. Semakin kamu tarik (mengejar, minta kepastian, spam chat), semakin tegang karetnya.
Nanad ibarat sisi karet yang satu lagi. Saat ketegangan terlalu tinggi (merasa diawasi, dituntut kabar), insting dia adalah melepaskan diri (snap back) supaya tidak "putus".
Kalian berdua tidak jahat. Kalian hanya punya cara yang berlawanan dalam menangani rasa takut. Naka takut kehilangan, Nanad takut kehilangan diri sendiri (terkekang). Solusinya? Kendurkan karetnya.
Naka, dulu kamu pikir Cinta = Intensitas (chat 24 jam, tahu lokasi). Mulai sekarang, ubah mindset: Cinta = Memberi Ruang. Memberi dia ruang saat dibutuhkan adalah bentuk cinta tertinggi yang bisa kamu kasih sekarang.
Ambil kembali remot kontrol kebahagiaanmu. Kamu punya karir, kamu punya hobi, kamu punya teman. Fokuslah ke sana bukan sebagai pelarian, tapi sebagai identitas. Pasangan yang Secure mencintai pasangannya, tapi tidak membutuhkan pasangannya untuk bisa bernapas/hidup. Jadilah cowok yang want her, bukan need her seperti oksigen.
Ubah mindset-nya. Konflik kemarin adalah Kesempatan Emas. Tanpa konflik itu, kamu tidak akan sadar kalau yang kamu lakukan itu racun. Tanpa konflik itu, kamu tidak akan belajar menahan diri seperti ini. Hubungan kalian sedang 'naik kelas'. Sakit memang, seperti otot yang robek saat nge-gym, tapi setelah sembuh ototnya akan lebih besar dan kuat. Percayalah pada proses penyembuhannya.
Nanad, konflik adalah sinyal bahwa ada kebutuhan yang belum terpenuhi, bukan tanda berakhir. Naka bertahan dan ingin memperbaiki, itu adalah resource yang berharga. Jangan buru-buru membuang hubungan yang punya potensi hanya karena sedang ada di fase yang tidak nyaman. Bertahanlah sedikit di ketidaknyamanan itu untuk menyelesaikannya bersama.
Saat dia memberimu ruang, cobalah untuk mendekat sedikit. Ini akan membuat Naka merasa aman dan percaya bahwa memberikanmu kebebasan adalah hal yang benar.
Kepercayaan itu dibangun, bukan dipantau. Stop penggunaan Life360 atau sejenisnya selamanya. Kurangi chat "Lagi apa?" yang repetitif. Ganti dengan quality update (misal: kirim foto lucu, cerita singkat kejadian hari ini) tanpa menuntut balasan instan.
Hubungan yang kuat tidak diukur dari seberapa sering HP berbunyi, tapi seberapa nyaman kalian saat bersama (baik di chat maupun ketemu). Lebih baik chat sedikit tapi isinya fun dan hangat, daripada chat ratusan baris tapi isinya kecemasan dan interogasi.
Salah satu pihak boleh bilang: "Aku butuh pause dulu." Hormati jeda itu. Jangan kirim chat panjang lebar saat masa pause. Itu waktu untuk mendinginkan kepala, bukan waktu untuk ditinggalkan.
Aku sadar kita punya ketakutan dan kebutuhan yang beda. Tapi aku yakin kita bisa belajar saling ngertiin. Aku serius mau berubah, Nad.